Kamis, 26 April 2012

Kurangnya Dukungan Energi Surya Untuk Indonesia


Saya tergugah ketika membaca artikel VOA Indonesia yang berjudul Pemanfaatan Energi Surya di Kota New York (23.04.2012). Artikel tersebut berisi mengenai inisiatif walikota New York untuk mendukung penggunaan energi surya sebagai sumber energi bersih di kota tersebut.Walikota Michael Bloomberg dalam konferensi persnya mengumumkan instalasi panel-panel surya di sepuluh bangunan sebagai bagian dari program percontohan. Dukungan penggunaan energi surya tersebut juga ditunjukkan dengan adanya keringanan pajak negara bagian dan federal, serta pemotongan biaya. 

Jack Hidary, pendiri Samba Energi, mengatakan bahwa data menunjukkan instalasi tenaga surya di Amerika telah meningkat sepuluh kali lipat sejak tahun 2009, dan harganya terus menurun karena teknologi semakin efisien dan teknik instalasinya terus berkembang. Dia mencatat bahwa sel-sel surya yang dipasang di rumah saudara laki-lakinya ternyata dapat mengumpulkan energi lebih banyak dari kebutuhan keluarga tersebut.

Artikel tersebut tentunya menimbulkan pertanyaan, bagaimana dengan Indonesia? Padahal Amerika Serikat dan negara-negara Eropa memiliki letak yang jauh dari khatulistiwa. Hal itu membuat pendeknya durasi paparan maksimal dari sinar matahari. 

Rotasi Bumi dan Pengaruh Terhadap Posisi Matahari
Negara tropis lebih lama mendapatkan sinar matahari dengan yang tidak jauh berbeda sepanjang tahun. Berbeda dengan negara subtropis yang ada waktu tertentu, intensitas sinar matahari yang diterima turun drastis, seperti pada saat musim dingin.  Namun hal itu tidak menyurutkan semangat negara-negara tersebut untuk mengembangkan dan menggunakan energi surya. Hal ini harusnya menjadi motivasi tersendiri bagi Indonesia yang memiliki potensi besar dalam energi surya.

Posisi Matahari dan Pengaruhnya pada Musim











Selama ini pemerintah lebih berfokus kepada masalah BBM, mengenai pembatasan penggunaan, pengurangan subsidi maupun konversi ke gas. Namun ada yang dilupakan, yakni potensi sumber-sumber energi terbarukan di Indonesia. Akan tetapi pemanfaatan energi terbarukan tersebut membutuhkan inisiatif dan dorongan dari pemerintah seperti yang dilakukan walikota New York tersebut. Pengurangan biaya serta pemotongan pajak bagi produk-produk energi terbarukan akan membuat investor dan pengusahan tertarik untuk mengembangkan dan menjual produk pendukung energi terbarukan. Selain itu, pengurangan pajak bagunan bagi pengguna energi alternatif selain dari sumber PLN akan membuat masyarakat tertarik untuk menggunakan energi alternatif seperti energi surya.

Selain itu, ada berita baik untuk Jakarta, sebagai ibu kota Indonesia. Tidak semua instalasi panel surya harus dipasang di atas atap gedung. Dalam artikel VOA tersebut, Carlos Berger dari Solaire Voltaic, sebuah perusahaan kecil energi alternatif di Brooklyn, New York, baru-baru ini melapisi tembok luar bangunan dengan lapisan panel sel-sel surya yang tipis. Lapisan panel itu dibuat dari bahan dasar silikon yang transparan. 

Ini merupakan berita baik karena, berbeda dengan daerah lain di Indonesia, beban puncak di Jakarta justru berlangsung pada siang hari. Pada saat orang bekerja dan gedung perkantoran mengkonsumsi listrik untuk pendingin ruangan, lampu, komputer dan kegiatan perkantoran lainnya. Gedung perkantoran dengan belasan atau bahkan puluhan lantai memiliki bidang vertikal yang luas. Dengan memanfaatkan sel-sel surya pada bidang tersebut, tentunya hasil yang didapatkan akan jauh lebih besar dibanding hanya memasang sel surya di atap gedung. Hal tersebut pada gedung-gedung perkantoran di dunia. Salah satunya adalah CIS Office Building di Manchester.
 
Co-operative Insurance (CIS) Office Building di Manchester
Indonesia sebagai negara di garis khatulistiwa merupakan salah satu negara dengan potensi energi surya terbesar di dunia. Namun untuk mempercepat pengembangan dan penggunaan energi surya, tentunya itu memebutuhkan dukungan dari pihak-pihak terkait khususnya pemerintah. Potensi energi surya tanpa motivasi dan dukungan untuk mengembangkannya akan menjadi sia-sia. Potensi tanpa motivasi hanyalah kata-kata tak berisi.

Kamis, 15 Maret 2012

Meaning of Life

Back in college, my friend asked me to become community service leader in our organization. I used a simple picture to attract  my friend to become part of my team. Honestly, this picture and those one year experience as a community service leader affected me even up until now. Even give me courage to achieve bigger than have a fancy job with good salary in town.
This picture reminds me about a nice movie entitled "The Bucket List". In this movie, Morgan Freeman said:
In front of heaven gate, God will ask you two question 
Have you found joy in your life? 
Has your life brought joy to others? 

I don't know how long my life is. But I wanted to be useful for myself, for my family, for people around me, for my country and hopefully my religion. And hopefully at the and of the day, I can answer the question, confidently.

Sabtu, 03 Maret 2012

53 Tahun ITB, Harapan yang Belum Terwujud

Tanggal 2 Maret 1959 merupakan peresmian pendirian ITB oleh Presiden Soekarno. Namun kampus ITB sejatinya sudah ada sejak zaman belanda atau tepatnya 3 Juli 1920 dengan nama Technische Hoogeschool et Bandung. Selama perjalanannya nama Technische Hoogeschool et Bandung terus berganti dari waktu ke waktu, bahkan menjadi terakhir menjadi Universitas Indonesia sebelum menjadi ITB. Ya, Universitas Indonesia, Kakek saya adalah salah satu alumni ITB ketika ITB masih bernama Fakultas Teknik Universitas Indonesia lengkap dengan lambang makaranya. Namun akhirnya ITB diresmikan dengan konsentrasi ilmu teknik dan Universitas Indonesia didirikan terpisah.

Cover Depan Buku 30 Tahun 

Saat saya tengah merapikan lemari buku, tak sengaja mata saya tertuju pada sebuah buku yang ternyata adalah buku peringatan 30 tahun ITB. Buku yang dibuat pada tahun 1989 dan diterbitkan tahun 1991 ini kurang lebih menceritakan pandangan akan kondisi Indonesia saat itu dan juga harapan serta perkiraan terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni di Indonesia, khususnya melalui ITB pada jangka 20 hingga 25 tahun dari saat itu. Beberapa isu yang ada di dalamnya diantaranya adalah perkiraan tentang perkembangan teknologi nano yang kian pesat, bagaimana fase REPELITA selanjutnya (ya dengan asumsi Soeharto akan bertahan lama) dan kondisi perekonomian Indonesia di masa datang. Sudah 23 tahun berlalu sejak 1989, menarik rasanya melihat kebelakang dan bercermin apakah pandangan dan harapan yang ada telah tercapai.

Halaman Depan Buku 30 Tahun ITB
Satu hal yang sangat menarik perhatian saya adalah mengenai harapan bagaimana dunia pendidikan dan industri  dapat bekerja sama sehingga nantinya akan membangun perekonomian Indonesia. Menurut Prof. Iskandar Alisjahbana [1], ITB membutuhkan Industrial Park atau Science Park di dekat kampus. Industrial Park ini dimaksudkan untuk kemudahan pendirian industri-industri kecil yang bersifat pionir. Beliau berkata, "Alangkah indahnya kalau industri ini berasal dari kelanjutan penelitian dosen-dosennya". Ia mencontohkan dengan pendirian Science Park di Universitas Singapura (saat ini NUS) yang meski baru didirikan 7 tahun (berdiri pada 1982), Beliau langsung menyadari potensi dan dampak yang akan ditimbulkan di masa mendatang untuk Singapura dan tumbuhnya industri-industri high tech di negara tersebut. Saat ini Science Park tersebut terus berkembang dan bahkan pada tahun 2011, perusahaan pembuat Harddisk, Western Digital, juga  mendirikan pusat R&D di Singapore Science Park.

Kerjasama antar dunia pendidikan dan industri tersebut Prof. M. T. Zen[2] dalam buku ini, dapat terjadi akibat semakin besarnya biaya yang dibutuhkan nantinya dalam industrial research sehingga mendorong adanya integrasi antara pendidikan tinggi, kegiatan R&D dan industri.  Hal tersebut menimbulkan adanya technopole, yaitu pusat-pusat perkembangan yang terdiri dari universitas, lembaga riset dan industri disekelilingnya, dimana terdapat kerjasama yang erat dan saling menguntungkan. Technopole-technopole tersebut tersebar di seluruh dunia seperti di Perancis, Jepang, Amerika, Jerman dan banyak negara lain. Contoh technopole yang ada adalah, Silicon Valley, Standford Research Park dan banyak lagi di Amerika atau yang paling dekat dengan Indonesia tentu saja, Singapore Science Park. 

Dengan technopole tersebut maka industri memanfaatkan sumber daya intelektual universitas serta lembaga R&D, sebaliknya industri dapat menyalurkan dana ke universitas dan lembaga R&D. Dan pemerintah dapat memusatkan pembiayaan kepada disiplin ilmu dasar atau ilmu-ilmu yang tidak langsung berhubungan dengan industri.

Setelah lebih dari 20 tahun diungkapkan, sepertinya cita-cita Indonesia memiliki technopole yang berkontribusi pada perkembangan Indonesia, bahkan menarik perusahaan asing untuk memiliki R&D di Indonesia belum terwujud. Meski demikian, usaha mewujudkan Science Park sudah ada, contohnya dengan PUSPITEK. Namun menurut pandangan saya, PUSPITEK yang ada pun terkesan terisolasi dari dunia luar karena jauh dari universitas maupun industri dan kurang menginformasikan hasil karyanya kepada khalayak ramai. Kegiatan penelitian yang ada seolah hanya untuk kesenangan pribadi peneliti dan sekedar penelitian penghasil paper atau jurnal ilmiah yang hasilnya tidak dapat langsung dirasakan masyarakat, khususnya masyarakat Indonesia. Masih jauh rasanya kita bisa mengejar Singapore Science Park yang berisi R&D perusahaan asing seperti Sony, Exxon Chemical, Silicon Graphics dan Western Digital.

Model Arah Pengembangan Teknologi dan Dampaknya (oleh Prof. Astrid S. Susanto)

Menurut Prof. Astrid S. Susanto[3] dalam modelnya di buku ini, ketika universitas berfokus pada pengembangan teknologi yang bertujuan berkontribusi baik dari segi sosial dan ekonomi, maka hal tersebut akan mengarah pada kesejahteraan. Meskipun tidak dijelaskan secara lebih lanjut, saya setuju dengan hal tersebut. Penelitian yang berdasarkan kebutuhan masyarakat (segi sosial) atau potensi pasar (segi ekonomi) akan menciptakan produk yang dapat diterima masyarakat dan dikomersialisasikan. Produk akhir yang diterima dan bermanfaat bagi masyarakat tentunya akan meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Selain itu hasil dari komersialisasi tersebut nantinya dapat terus digunakan untuk proses pengembangan dan penelitian berkelanjutan dari suatu teknologi. Dengan adanya hubungan berkelanjutan antara penelitian, kebutuhan masyarakat, dan proses keekonomian maka secara berkala akan menciptakan peningkatan kualitas hidup masyarakat serta kualitas inovasi teknologi Indonesia.

Indonesia dan ITB khususnya saat ini mempunyai peluang untuk bergerak lebih lanjut ke arah Technopole dan Science Park tersebut. Perkembangan kegiatan entepreneurship yang didukung oleh berbagai pihak dalam bentuk dana dan pelatihan apabila dimanfaatkan dengan baik dan mengarahkannya ke Technopreneurship maka Science Park atau dengan cita-cita yang lebih tinggi yakni Silicon Valley Indonesia yang bermanfaat bagi masyarakat dan ekonomi bangsa bukan sebuah isapan jempol belaka.

Apabila hal tersebut dapat tercapai, maka terwujudlah apa yang dikatakan Multatuli: ". . . . . kepulauan Nusantara yang tersebar di khatulistiwa bagaikan zamrud terlepas dari untaiannya"


footnote:
[1] Mantan Rektor ITB periode 1977-1978. Dikenal juga sebagai Bapak sistem komunikasi satelit domestik palapa.
[2] Guru Besar Geofisika Terapan ITB, salah satu pencetus berdirinya program studi Geofisika.
[3] Profesor Komunikasi dan Perkembangan Sosiologi Universitas Indonesia.

Kamis, 16 Februari 2012

Ketika Tuhan Bukan Lagi Ancaman

Akhir-akhir ini semakin ramai diberitakan proses hukum kasus Wisma Atlet yang melibatkan anggota DPR, Angelina Sondakh (Angie) dan berpotensi menyeret anggota Partai Demokrat lainnya. Hal ini menjadi sorotan publik tidak hanya dikarenakan jumlah uang yang berputar di dalamnya namun juga keterlibatan partai pemimpin negeri yang pada awal pemilihannya mengusung janji pemberantasan korupsi. Namun hal sangat disayangkan adalah adanya skenario dan "nyanyian" yang diperdendangkan di ruang pengadilan.

Keterlibatan Angie minimal disebut-sebut oleh 3 orang saksi, Nazarudin, Rosa dan Yulianis. Bahkan dalam persidangan dia membantah adanya komunikasi melalui BBM dan mengatakan baru mempunyai BlackBerry sejak akhir 2010. Hal ini tentu menimbulkan pertanyaan, pasalnya penggunaan BlackBerry oleh Angie sempat terekam kamera pada tahun 2009.

Terlepas dari benar salah maupun pihak-pihak mana saja yang terlibat, kita semua meyebutkan sumpah ketika kita bersaksi di pengadilan. Tidak peduli apapun agama yang dianut, kita telah berjanji dan bersumpah demi agama kita untuk setiap kata yang terucap di pengadilan. Bukan hanya sanksi pengadilan bila terbukti memberi kesaksian palsu, namun setiap agama pasti mempunyai hukuman tersendiri akibat berbohong bahkan   di hadapan pengadilan. Dalam agama Islam sendiri, salah satu hukuman untuk sumpah palsu ditulis dalam surat Ali-Imran ayat 77

[3:77] Sesungguhnya orang-orang yang menukar janji (nya dengan) Allah dan sumpah-sumpah mereka dengan harga yang sedikit, mereka itu tidak mendapat bahagian (pahala) di akhirat, dan Allah tidak akan berkata-kata dengan mereka dan tidak akan melihat kepada mereka pada hari kiamat dan tidak (pula) akan mensucikan mereka. Bagi mereka azab yang pedih.

Namun sepertinya itupun tidak cukup. Bukan hanya sanksi moral dan sanksi pengadilan, bahkan hukuman Tuhan pun sudah tidak lagi menjadi ancaman dalam berperilaku. Ketika para wakil rakyat tidak lagi memandang Tuhan sebagai ancaman, siapa lagi yang dapat kita percaya.

Happy Innovator Month

Banyak orang berkata bahwa Februari adalah bulan cinta karena ada hari valentine. Bahkan tempat-tempat perbelanjaan juga tidak mau ketinggalan dan menghiasi mall dengan berbagai pernak-pernik serba pink. Tapi bagi saya, Februari adalah bulan inovasi. Kenapa bulan inovasi? Well, itu karena salah satu penemu hebat dunia, Thomas Alva Edison lahir 165 tahun yang lalu tepatnya pada 11 Februari 1847. Tentunya hampir semua orang mengenalnya karena penemuannya yang luar biasa, bola lampu.

Thomas Alva Edison
Selain bola lampu, dia juga menemukan ratusan hal lain seperti mikrofon karbon untuk telepon dan juga perekam suara pertama. Dia juga merupakan pengusaha yang sukses. Mungkin dialah role technopreneur yang patut dicontoh. Dia menjual penemuannya dan sekaligus memproduksi alat-alat hasil temuannya. Dia menyempurnakan telepon, menjual mesin telegram bahkan menjadi penemu pertama yang memiliki pembangkit listrik di kota New York. Bahkan salah satu perusahaannya masih tetap berdiri hingga sekarang dan berumur lebih dari 130 tahun, yaitu General Electric, yang pada awalnya sempat bernama Edison General Electric.

Tidak hanya itu, buku diary milik Edison juga mengungkapkan pemikiran-pemikirannya mengenai alat unik yang dipandang dibutuhkan mendahului zamannya. Beberapa contohnya adalah piano elektrik, sutra buatan dan bahkan tinta untuk orang buta. Berikut beberapa daftar "To Do List" dari Edison.




Dan bagi yang merayakan valentine dan menjadikan Februari sebagai bulan kasih sayang. Tahukah kamu kalau adegan ciuman pertama di layar yang direkam merupakan hasil produksi dari  Edison's Black Maria studio di West Orange, New Jersey dan adegan tersebut diarahkan oleh Thomas Alva Edison.



I find out what the world needs. Then, I go ahead and invent it.
-Thomas A. Edison-
Happy Innovator Month ^__^

Selasa, 31 Januari 2012

E-Doctor Pemerata Akses Pelayanan Kesehatan

Akses pelayanan kesehatan menjadi salah satu permasalahan yang unik di Indonesia. Di satu sisi terdapat ketidakmerataan pelayanan kesehatan hingga pelosok daerah. Ketidakmerataan tersebut salah satunya dapat terjadi karena masih kurangnya tenaga medis di Indonesia. Di sisi lain, kehidupan masyarakat perkotaan kadang lebih mementingkan menyelesaikan pekerjaan dibandingkan memeriksa kesehatan. Bagi masyarakat perkotaan, menemui dokter atau memeriksa kesehatan seringkali merupakan jalan terakhir apabila penyakit yang dirasakan sudah cukup parah atau diderita dalam waktu lama. Hal ini disebabkan karena menemui dokter akan memakan waktu dan menghambat pekerjaan. Untuk itulah diperlukan sebuah solusi agar pelayanan kesehatan dapat dilakukan kapanpun dan dimanapun, tanpa terbatas ruang dan waktu. Solusi tersebut salah satunya dengan program E-Doctor atau Electronic Doctor. E-Doctor bertujuan agar setiap masyarakat dapat mendapat pelayaan measyarakat tanpa berhadapan dengan tenaga medis secara langsung.
E-Doctor
-just because you're not sick, doesn't mean you're healthy-
Seiring dengan perkembangan alat kesehatan yang semakin kecil dan portable memungkinkan masyarakat melakukan pemeriksaan awal terbatas terhadap kondisi kesehatan tanpa harus menemui tenaga medis. Hal ini juga didukung oleh perkembangan teknologi informasi dan akses internet yang semakin meluas di kalangan  masyarakat. Dengan integrasi antara pelayanan kesehatan dengan teknologi informasi yang mendukung program E-Doctor, akses kesehatan diharapkan akan menjadi lebih baik dan merata.

Bagi masyarakat pedesaan, dengan adanya E-Doctor, masyarakat dapat memeriksakan diri dengan alat medik portabel di puskesmas-puskesmas, petugas puskesmas selanjutnya mengirimkan hasil pemeriksaan bahkan ke dokter spesialis yang terdapat di kota besar. Hasil tersebut nantinya akan dikembalikan berupa hasil diagnosa dan resep obat yang diperlukan. Dengan adanya hal tersebut maka masyarakat pedesaan akan mendapat pendapat tenaga ahli yang sama yang biasa didapatkan masyarakat perkotaan. 

Bagi masyarakat perkotaan, adanya E-Doctor, maka setiap orang dapat memeriksakan dirinya sendiri dan melakukan konsultasi online dengan tenaga medik yang tersedia. Konsultasi online dapat berupa pengiriman data gejala seperti tekanan darah, temperatur dan sebagainya dari alat medik portable yang selanjutnya didiagnosa. Maupun dengan video conference berupa konsultasi tatap muka secara online. Hal tersebut menjadikan konsultasi dengan tenaga medis tidak lagi memakan waktu yang tidak perlu seperti menunggu antrian dan sebagainya. E-Doctor juga mendukung masyarakat perkotaan untuk berkonsultasi dikala senggang.

Akses kesehatan yang merata merupakan hak setiap warga negara. Dengan adanya program E-Doctor, diharapkan pelayanan kesehatan dapat menjangkau masyarakat yang lebih jauh dan memberikan level pelayanan yang sama dimanapun dan kapanpun.

-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Tulisan ini juga diikutsertakan dalam Philips '+' Project



Minggu, 01 Januari 2012

2012: year of hope, maturity and determination

Tonight is a new year eve. We will leave 2011 soon and welcoming 2012. For me 2011 was an awesome year, an extraordinary year that I felt my life just like a sailing boat in the middle of stormy sea. A lot of things happened, big decisions are made and some confusing moment has passed.

In 2011 I graduated from college with my final project about medical instrumentation, "Development of Low Cost Electrocardiograph as a Non-invasive Heart Monitoring Device for Mice", cool title hah? I want to join medical school after senior high but then I decided to choose engineering over medical school. But finally I still can learn about medical instrumentation in college. It was like have a combo dream that comes true, became engineer and learn about medical things. Then I graduated.

Right after I graduated, even before graduation ceremony, I join Apprenticeship program from IBM. 4 month apprenticeship session and have a life changing experience. Learn about how big company work and learn to understand about customer requirement. We need to think both in technical perspective and business advantages perspective. Met with new friends, new family. Have a world wide working experience and team up with people from around the globe. Such a extraordinary experience.

After 4 months, the result from my apprenticeship session was good. They extend my apprenticeship session with 2 month internship program while preparing hiring ticket for the next year (2012, yes we already in 2012). But then here comes the crazy moment. I decided not to take the offering and risk my future for following my passion and purpose, engineering and healthcare. I love the company, they have extraordinary environment and many nice and talented person there. But I just follow my heart.

For me 2011 just like a year with the speed of light. Graduated from college, join an apprenticeship for one of the biggest MNC in the world and then decided to leave a secure job position to take the risk to follow my passion in engineering.

Now we welcoming 2012. 2012 that means a new hope for me. A year that will give me a maturity after took a life changing experience and a big decisions in 2011. A year that hopefully show my determination toward my dream, passion and purpose.

What a year. Hope for the best for 2012.