Jumat, 18 Juni 2010
Hidup Berdasarkan Tantangan
Teringat sebuah notes dari mentor yang menginspirasi (sengaja ditaruh disini juga buat arsip ^_^ hehhehehe). Berikut notesnya
============================================================
By : Robby Rahadian Sunendar (May 25, 2010 at 2:53pm)
"Sesungguhnya Allah jika menghendaki membinasakan seorang hamba, maka Dia mencabut dari orang itu rasa malu.
Jika telah tercabut darinya rasa malu, engkau tidak menjumpai orang itu kecuali bergelimang dosa.
Jika engkau tidak menjumpai kecuali bergelimang dosa, dicabut (pula) dari dirinya AMANAH. Apabila telah DICABUT DARINYA AMANAH, engkau tidak menjumpainya kecuali sebagai orang yang berkhianat dan dikhianati.
Jika engkau tidak menjumpainya kecuali dalam keadaan berkhianat dan dikhianati, maka dicabut darinya rahmat (Allah). Apabila telah dicabut darinya rahmat (Allah), engkau tidak menjumpainya kecuali dalam keadaan terkutuk dan terlaknat. Jika engkau tidak menjumpainya kecuali dalam keadaan terkutuk dan terlaknat, maka dicabut darinya ikatan dengan Islam?. (HR. Ibnu Majah) "
nah, sesungguhnya amanah, kerjaan, kesibukan, tanggung jawab atau apapun yg sejenis adalah upaya Allah untuk memberikan hikmah dan kebaikan, maka...
berbahagialah bagi mereka yg selalu disibukkan dengan tanggung jawab, karena dengannya ia akan tumbbuh, menjadi besar, menjadi lebih baik, dan dengannya ia akan terjaga.
dan hati-hatilah bagi mereka yg berleha-leha, santai, dan menghabiskan waktu luang dengan sesuatu yg ga ada manfaat. jangan2 termasuk golongan yg DICABUT AMANAHNYA
===========================================================
Selasa, 16 Maret 2010
Senin, 15 Maret 2010
Kick Andy edisi minggu ini, Jumat, 19 Maret 2010 21:30:00 Wib di Metro TV
===================================================================
Banyak jalan menuju Roma, hal ini lah yang diyakini para nara sumber Kick Andy kali ini dalam mengejar mimpinya. Misalnya kisah Winarno, seorang anak yang lahir dari keluarga miskin. Ayahnya seorang informan polisi yang tidak lulus SD dan ibunya seorang tukang pijat yang buta huruf.
Masa sekolah dan kuliah Winarno identik dengan perjuangan keras, dari urusan biaya, fasilitas untuk bersekolah, hingga transfortasi yang cukup jauh. Satu prinsip kuat yang ia yakini saat itu adalah, kalau pintar pasti bisa berhasil. Maka ia pun memompa semangatnya untuk bisa meraih nilai tertinggi. Untuk urusan kuliah, ia menemukan taktik untuk bisa memperoleh sekolah gratis.
Dari seluruh perjuangannya, Winarno kini sudah meraih gelar professor untuk bidang ilmu dan teknologi pangan. Di usianya yang sudah berkepala tujuh, ia masih aktif sebagai Rektor di Universitas Katolik Atmajaya, Jakarta.
Kisah Basuki asal Sragen, lain lagi. Sejak kecil ia disibukan dengan urusan membantu perekonomian keluarga dari mulai jualan kantong plastik, semir sepatu, atau ngojek paying saat hujan. Kala itu keluarga mereka hijrah ke Ibukota untuk meningkatkan taraf hidup dan malangnya, tidak berhasil. PHK yang menimpa ayahnya, kemudian memaksa keluarga ini kembali ke kota asal mereka, Sragen.
Menjelang masa kuliah, Basuki mulai merambah usaha baru, yakni jadi loper koran. Jadi masa kuliah pun ia jalani sambil berjualan koran dan di waktu luang jadi pedagang asongan.
Pada Januari 2010 lalu, Basuki mendapatkan pengukuhan gelar Doktor Ilmu Komunikasi dari Universitas Indonesia. Dan kini tercatat sebagai dosen di Universitas Pembangunan Nasional, Yogyakarta.
Dari Yogakarta, ada kisah menarik milik Purwadi. Putra pasangan Ridjan dan Yatinem ini harus bekerja keras sejak kecil agar bisa meneruskan sekolahnya hingga ke bangku kuliah. Ayahnya seorang buruh tani dan ibunya yang penjual bakul sayur, tak memiliki kemampuan ekonomi yang cukup untuk membiayainya.
Alhasil Purwadi harus pintar-pintar mencari cara. Masa kuliah ia berjualan kantung gandum, menjual majalah bekas, hingga memberi les gamelan. Untuk mengirit biaya buku dan makanan, ia memiliki trik trik khusus semasa kuliah. Perjuangan yang tak kenal lelah telah mengantar Purwadi meraih gelar Doktor Filsafat dari Universitas Gajah Mada, Yogyakarta
Anda mengenal Saldi Isra? Seorang Ahli Hukum Tata Negara yang cukup menonjol di tanah air. Di usianya yang ke 42 tahun, ia sudah menyandang gelar Profesor Doktor. Tahukah anda Saldi Isra lahir dari keluarga seperti apa?
“Orang tua saya petani yang buta hurup, dan masa sekolah saya harus dilakukan sambil membantu orang tua membajak sawah,” katanya saat tampil di Kick Andy.
Kisah yang penuh spirit juga hadir dari seorang dokter bedah syaraf kaliber dunia, Eka Julianta. Dokter yang telah berhasi melakukan banyak operasi otak dan batang otak ini, kini sering mendapat undangan untuk melakukan presentasi di berbagai Fakultas kedokteran dan symposium di berbagai Negara baik Asia, Afrika, Eropa dan Amerika.
Tapi tahukah anda, bahwa perjuangan Eka, untuk mengejar mimpi dan mewujudkan cita-citanya sebagai dokter, dimulai dengan membantu ibunya menumbuk singkong getuk, dan menjajakannya di sekolah.
Inilah episode yang akan mengajak kita semua untuk belajar pada pengalaman orang-orang yang berhasil. Pengalaman yang telah membawa bukti bahwa kemiskinan bukanlah halangan untuk mengejar mimpi dan mewujudkan apa yang kita cita-citakan. Selamat menyaksikan.http://kickandy.com/theshow/2010/03/19/1846/1/1/1/-MENGEJAR-MIMPI
===================================================================
Kita merupakan sebagian orang yang sangat beruntung, bisa mencapai jenjang pendidikan sampai tingkat ini, tingkat dimana tak setiap orang di Indonesia bisa untuk merasakannya. Sebagian besar dari kita dapat mencapai titik ini dengan perjuangan yang tidak seberat orang-orang yang jauh lebih tidak beruntung. Bahkan sampai saat ini,cerita seperti "Laskar Pelangi" yang harus berjuang demi pendidikan masih terjadi dibanyak bagian Indonesia, mulai dari SD dibalik gunung sampai daerah sekitar tempat tinggal kita.
Divisi PM-HMFT berencana untuk mengadakan program "Kakak Asuh" yang akan membantu untuk mengajar bagi anak-anak usia SD maupun anak-anak jalanan bekerja sama dengan "Yayasan Air", kita akan melakukan pengajaran mengenai pelajaran sekolah, bermain bersama dan juga mencanangkan pemberian Beasiswa bagi yang membutuhkan. Untuk itu,kami mengajak teman-teman untuk berpartisipasi di dalamnya.
Program ini diadakan agar semakin banyak anak bangsa yang peduli sesama. Semakin banyak anak bangsa yang berani bermimpi dan berusaha untuk mengejar mimpinya.
Demi Indonesia yang sejahtera.
Demi Garuda yang perkasa.
Vivat FT!
Kamis, 07 Januari 2010
Selasa, 20 Oktober 2009
Ganesha
bukan disegani karena mau mematahkan gadingnya untuk menulis
bukan disegani karena duduk dan membaca buku
bukan disegani karena memegang kapak
bukan disegani karena berselendang
tapi ia disegani karena melakukan itu semua SEKALIGUS di saat yang bersamaan
===========================================================
Minggu, 05 Juli 2009
Seuntai Kata
Jumat, 26 Juni 2009
Renungan Dari Debat Capres
25 june at 9:44pm
Mendengar sebuah pernyataan yang agak menggelitik ketika debat capres malam ini.
"Makanya untuk menambah tenaga kerja terlatih nanti kita buat supaya jumlah SMK lebih banyak daripada SMA, sehingga jumlah tenaga kerja terlatih bisa lebih banyak dan mengurangi pengangguran", kata SBY.
Mungkin memang lebih baik bila kita bandingkan, daripada lulusan SMA berjumlah banyak tapi banyak juga yang menganggur lebih baik banyak lulusan SMK tapi bekerja dan tidak menganggur. Istilah lain mungkin sebagai buruh terdidik.
Tapi agak mengerikan bila membayangkan nanti akan lebih banyak lulusan SMK dibanding SMA, dan hanya menjadi buruh terdidik. Bayangkan saja bila semua orang Indonesia memang bekerja, tidak ada yang menganggur, tapi sebagai buruh terdidik. Di sisi lain, atasan atau pemilik bisnisnya adalah orang-orang asing.
=========
"Jangan sekali-kali melupakan sejarah", kata Bung Karno. Di sisi lain ada pepatah mengatakan, "sejarah akan selalu berulang". Lalu apa yang akan kita lihat di Indonesia saat 5, 10 atau mungkin 15 tahun mendatang? Menjadi buruh ahli di bawah pengawasan asing? Lalu apa bedanya dengan ratusan tahun lalu ketika VOC memperbudak rakyat Indonesia? Miris memang membayangkannya. Bila dilihat, memang tidak salah ketika Amien Rais dalam bukunya, SELAMATKAN INDONESIA, mengatakan bahwa mental sebagian besar penduduk Indonesia saat ini adalah mental inlander , mental buruh atau budak, sehingga kita harus mengubah mental itu.
=========
Teringat sebuah puisi dari W.S Rendra, yang saya tahu dari seorang senior yang sangat dekat, puisi tentang pendidikan yang menurut saya ketika dipikirkan memang ada kebenaran yang sulit kita ingkari. Bahkan mungkin sebagian dari kita justru pernah memimpikan sesuatu yang menjadi ironi tersebut.
=========
Puisi W. S. Rendra tentang Pendidikan
Aku bertanya,
Apakah gunanya pendidikan,
bila hanya akan membuat seseorang menjadi asing di tengah kenyataan persoalannya?
Apakah gunanya pendidikan,
bila hanya mendorong seseorang menjadi layang-layang ibu kota, sekrup-sekrup di Schlumberger, Freeport, dan sebagainya,
kikuk pulang ke daerahnya?
Apakah gunanya seseorang,
belajar teknik, kedokteran, filsafat, sastra, atau apa saja,
ketika ia pulang ke rumahnya, lalu berkata,
Di sini aku merasa asing dan sepi


