Senin, 10 September 2012

Mid-air Birthday


It is kind of sad when you think you will be alone and leave your family exactly in your birthday. New age, new adventure, let's embrace our future.

Senin, 03 September 2012

Merantaulah!!

Tak terasa sudah lebih dari 1 tahun berlalu sejak kelulusan. Teman-teman jurusan mulai semakin terpisah. Rekan-rekan seperjalanan pun saling berkata "Sampai Jumpa" dan "Good Luck". Ada yang lanjut mendalami ilmu bisnis ke beda propinsi, ada pula yang mengejar cita dan asa ke negeri seberang. Korea, Finland, Perancis dan Singapura. Terlempar acak di peta dunia. Sebentar lagi aku pun akan berkata "Sampai jumpa Indonesia". 

Perpisahan sementara, petualangan dan perantauan kemballi mengingatkan pada salah satu sajak dari Imam Syafi'i. Sajak yang juga terdapat di buku negeri 5 menara karangan Ahmad Fuadi. Syair indah yang mendorong dan memberi keberanian untuk merantau.

Orang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman

Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang
Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan
Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang

Aku melihat air menjadi rusak karena diam tertahan
Jika mengalir menjadi jernih, jika tidak, kan keruh menggenang

Singa jika tak tertinggalkan sarang tak akan dapat mangsa
Anah panah jika tidak tinggalkan busur tak akan kena sasaran

Jika matahari di orbitnya tidak bergerak dan terus diam
Tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang

Bijih emas bagaikan tanah biasa sebelum digali dari tambang
Kayu gaharu tak ubahnya seperti kayu biasa jika di dalam hutan
(Imam Syafi'i)

Selamat merantau. Entah itu beda kota, propinsi, negara atau bahkan beda benua. Merantau, bukan arti sempit seperti geografi, tapi juga merantau di bidang-bidang pekerjaan baru mendalami keahlian yang belum terpikirkan sebelumnya. Bertemu orang baru, teman-teman seperantauan, rekan-rekan seperjuangan. Sampai akhirnya nanti, kita dapat berkumpul, bertukar cerita dan berbagi asa. Sampai akhirnya semua yang didapat bisa dipergunakan, untuk membangun Indonesia.

Good luck!!

Kamis, 16 Agustus 2012

Ups Wrong Book

I definitely bought a wrong book. I just bought a book, that my friend mentioned it a couple times in twitter. Twitvortiare, from Ika Natasha. Its about her fictional character in Antologi Rasa going online in Twitter. Honestly, the way she made her character to the reality in real life is really amazing. But, if you don't like all the crap about marriage life and fiction problem, this book is not for you. 
And yeah, this book is not for me either.

Maybe I will donate it to whomever wants it.

Minggu, 05 Agustus 2012

Cinta Shinta Milik Siapa

Rahwana menculik Shinta!!
itu kata berita
Rama pun murka seketika

Tapi pernahkah kau tanya
pernahkah kau tanya pada Rahwana
kenapa

Cinta memang gila katanya
bila sudah cinta
apa mau dikata

Mungkin aku JANCUK!!
kata orang Surabaya
tapi bila dengan inipun tak bisa kuketuk pintu hatimu
dengan airmata apalagi kugapai cintamu
di tengah tangisnya untuk Shinta

Lain Rahwana lain Hanoman
mungki ia tak seperkasa dan memiliki rupa seperti Rama
ia pun tak segila Rahwana
tapi dalam diam ia memendam rasa
pada Shinta

Cinta sunyi gagah berani
api dunia tak sebanding api asmara katanya
dibakarlah ekornya dan habislah Alengka
semua demi Shinta
katanya


Tapi pernahkah kau tanya Shinta
sesungguhnya cintanya milik siapa

Apakah benar untuk Rama
pemenang sayembara yang perkasa

Atau justru untuk Rahwana
yang bertindak gila demi mengemis cinta

Atau malah untuk Hanoman
yang membakar diri demi cinta Shinta

Cinta Shinta milik siapa


2012
==============================================
note:
Bagian jancuk pada Rahwana terinspirasi dari sajak Sujiwo Tejo dalam bukunya Jiwo J#ncuk dengan kalimat asli sebagai berikut:
"Jika dengan jancuk pun tak sanggup aku menjumpaimu
dengan airmata mana lagi dapat kuketuk pintu hatimu"

Sabtu, 04 Agustus 2012

Mimpi


Ditengah malam tanpa sengaja melihat status teman
"Buat apa kau berlari untuk mengejar mimpi yang tak pasti"

Hanya dalam hati menanggapi
"Lalu? Apa kau berharap untuk diam dan membiarkannya perlahan mati?"


Jumat, 03 Agustus 2012

Membuat Kuesioner di Google Docs

Kebetulan beberapa waktu lalu saya mencoba untuk memperbaharui database angkatan, masalah timbul ketika dibuat spreadsheet dan diminta untuk mengisi secara mandiri di google docs, yang ada malah guyonan dan saling mengisi data orang lain dengan data yang lucu-lucu. Bisa saja sih spreadsheetnya diganti hanya beberapa orang yang bisa mengisi tapi itu artinya ada orang yang harus repot mengisi ke dalam spreadsheet berulang kali toh. Untungnya, ternyata google docs juga mempunyai fitur untuk membuat kuesioner untuk mengambil data.

Google docs ini bisa juga dijadikan pilihan selain surveymonkey atau fitur kuesioner lain. Kelebihannya, karena berbasis akun google sehingga yang sudah punya akun google, tidak perlu membuat akun baru. Bagi beberapa orang itu sangat membantu karena jika perlu akun baru artinya kita harus mengingat password baru. Dan lagi, kita juga dapat menyertakan form isian ke dalam email, sehingga tidak perlu membuka tab baru di browser.

Berikut contoh pembuatannya

1. Buka pilihan form di google doc


2. Setelah itu kita sudah dapat memulai membuat kuesioner atau form isian data yang kita inginkan. Pada google docs terdapat beberapa pilihan pertanyaan yakni: Multiple choice, Scale, Checkbox, Text, Paragraph, Select from the list dan Grid. Selain itu kuta juga dapat menentukan apakah pertanyaan tersebut harus diisi atau berupa optional dengan mencentang tanda "make this required question" di bagian bawah setiap kali kita membuat pertanyaan.

Pada pertanyaan multiple choice, kita nantinya hanya dapat memilih satu jawaban dari pilihan yang ada.

Contoh pertanyaan Multiple Choice

Hasil akhir dari pertanyaan Multiple Choice

Beberapa kuesioner seringkali menanyakan skala dari 1 hingga sekian untuk mengetahui prioritas atau kecenderungan dalam penilaian seseorang. Untuk tujuan itu kita dapat membuat dengan pilihan "Scale" di google doc. Kita dapat memberi info tentang skala yang kita buat di bagian help text

Contoh pembuatan pertanyaan Scale

 Checkbox digunakan apabila kita dapat memilih lebih dari satu pilihan yang disediakan.
Contoh Checkbox

Kalau pilihan yang kita sediakan dirasa terlampau banyak untuk ditulis dengan multiple choice, kita dapat menggunakan Choose from the list untuk menampilkan pilihan yang ada dengan menu drop-down

Choose from the list
Selain itu masih terdapat beberapa pilihan lain yakni:

  • Text: untuk memberi form isian berupa satu baris.
  • Paragraph: Untuk form isian yang lebih panjang. Misal berupa esay atau data alamat, motivasi dan sebagainya.
  • Grid: apabila kita ingin menampilkan pilihan berbentuk tabel. Bisa digunakan dalam bentuk tabel skala atau tabel pilihan.

Setelah selesai pilih save di kanan atas dan selanjutnya menyebarkan form tersebut. Untuk mendapatkan url atau link untuk mengisi kuesioner kita dapat memilih menu form lalu go to live form (kotak merah) atau kita bisa langsung mengirimnya via email (kotak biru).

Cara menyebarkan form
Nantinya hasil kuesioner tersebut akan langsung masuk di spreadsheet google doc sehingga memudahkan kita untuk mengolahnya.

Hasil dalam google doc
Kuesioner tersebut dapat diisi melalui browser atau juga dapat langsung disertakan dalam badan email. Pembuatan yang simpel, pengolahan hasil yang mudah dan penyebaran yang gampang. Hasil contoh kuesioner yang sudah jadi juga dapat dilihat disini.

Semoga bermanfaat dan selamat mencoba.

Kamis, 02 Agustus 2012

Puasa

Jika kau minta untuk dihormati
dan memaksa menutup warung nasi di tengah hari
maka kau jauh lebih lemah
lemah dibanding fakir dan anak jalanan itu

saat kau berpuasa di bulan ini
mereka menahan diri di 11 bulan lain
menyaksikan kau makan minum dan tertawa
di tengah dahaga mereka

yang ketika meminta kau berpura mereka tiada
dan tidak sepeserpun kau derma

jika kau minta dihormati
maka kau belum berhasil
menahan diri

Selasa, 24 Juli 2012

Menggugat Kembali Hak Anak

Selamat hari anak nasional, ya, tanggal 23 Juli adalah hari anak nasional. Satu hari yang diletakkan di kalender nasional yang menunjukkan arti penting seorang anak bagi satu negara. Calon-calon pemimpin bangsa yang pada gilirannya akan menjadi pewaris peradaban dan membawa tongkat estafet pembagunan. Namun yang terjadi saat ini justru sebaliknya, kian hari eksistensi dukungan terhadap perkembangan kehidupan anak justru semakin menipis. Menipisnya dukungan tersebut jangan dikira sekedar isapan jempol belaka. Sepanjang 2012 tercatat 20 anak bunuh diri dan KomNas Perlindungan Hak Anak bahkan mencatat terdapat 686 jumlah pelanggaran, diantaranya terdapat 42 kasus pembuangan dan penelantaran anak. 

Menipisnya dukungan terhadap hak anak juga terjadi di bidang pendidikan. Ya, pendidikan, pendidikan dapat dikatakan sebagai salah satu elemen terpenting dalam suatu negara. Bagi level atas, pendidikan merupakan unsur yang menjaga agar suatu bangsa dan negara tetap kompetitif di persaingan global. Dan di level yang lebih membumi, pendidikan merupakan pemutus rantai siklus kemiskinan. 

Aspek yang begitu penting ini justru semakin hari kian tidak diperhatikan dan mengarah ke arah komersialisasi. Lihat saja contohnya, RUU PTN yang menimbulkan kontroversi yang dipandang akan meningkatkan lagi biaya pendidikan tinggi yang sudah mahal. Gugatan berbagai pihak tak dihiraukan dan tak menghentikan pengesahan RUU ini.

Bahkan dari aspek pendukung pendidikan di kehidupan sehari-hari seperti televisi semakin menjauh dari unsur mendidik. Tayangan televisi tidak lagi memperhatikan unsur pendidikan anak dan didominasi acara hiburan yang bahkan pembawa acaranya mencontohkan tindak kekerasan atau saling mencemo'oh. Rindu rasanya menyaksikan kartun di pagi hari, acara kuis-kuis yang mendidik seperti Digital LG Prima atau acara debat dan diskusi antar pelajar yang dulu tidak hanya disiarkan oleh TVRI.

Atau tak usah lah kita pikir tentang uang kuliah, tak usah kita pikir tentang tayangan pendidikan. Banyak anak justru kesulitan atau bahkan tidak bisa mengenyam pendidikan mulai dari tingkat dasar. Lihat saja bagaimana anak-anak sekolah ini harus mempertaruhkan nyawa untuk pergi ke sekolah.

"Jembatan" tali di Lebak (Reuters/Beawiharta Photo)

Bila tidak melewati jembatan, maka pelajar harus memutar dan berangkat pukul 4 pagi. (Reuters/Beawiharta Photo)
Masih banyak daftar panjang carut marut pendidikan, seperti insfrastruktur sekolah yang rusak, atau bahkan yang paling baru adalah penggusuran sekolah gratis, Sekolah Darurat Kartini, yang sudah dibuka dari 1990  bukan berasal dari dukungan pemerintah, tapi jiwa sosial dua bersaudara kembar, Sri Rossyati (63) dan Sri Irianingsih (63), sekolah tersebut gratis, bahkan alat-alat sekolah hingga seragam pun diberikan secara cuma-cuma. Ya, memang itu bukan lahan resmi milik mereka dan "meminjam" kolong jembatan seadanya yang merupakan tanah PT. KAI. Namun hal ini menunjukkan kurangnya partisipasi pemerintah dalam hal pendidikan dan bagaimana bidang pendidikan masih menunggu jiwa-jiwa sosial kita yang pada suatu saat, penghalang pendidikan tersebut justru datang dari pemerintah. Ibarat kata, pemerintah datang tanpa diundang, menyuruh pergi  tanpa solusi.

Sekolah Darurat Kartini


Kurangnya perhatian terhadap pendidikan anak akan berimbas pada meningkatnya pengangguran tidak terdidik dan tidak memiliki keahlian yang cukup yang nantinya berefek pada tingkat kriminalitas, kemiskinan dan lain sebagainya. 
"He/She who opens a school door, closes a prison" (Victor Hugo, sastrawan Perancis)
Kita patut bersyukur masih ada yang berusaha seperti Sri Rossyati (63) dan Sri Irianingsih (63) yang mendirikan sekolah tersebut, atau orang-orang lain di negeri ini yang berjuang di bidang pendidikan terlepas dari kurangnya dukungan dari komponen-komponen lain di negeri ini. Tidak terbayang berapa banyak "Budi kecil" seperti di lagu Sore Tugu Pancoran karya Iwan Fals yang ada di negeri ini.



Sudah saatnya kita menanyakan kembali bahkan menggugat hak anak terutama dalam hal pendidikan. Hak dari calon pewaris peradaban dan calon pembawa tongkat estafet pembagunan, yang merupakan kewajiban dari pembawa estafet pembangunan dan pemimpin bangsa saat ini.

Sabtu, 02 Juni 2012

With Compassion Comes Courage



"Kenji Goh" cover

I just read my old favorite comic book, "Kenji Goh". Its about young boy that learn about kung fu and travel all around China. In the last chapter, I found amazing word by one of Kenji kung fu teacher, "with compassion comes courage". Its very amazing word that describe how compassion and love give us courage  to do something.

Kenji laoshi (teacher) told him about true courage
After I googled it, this words came from Lao Tse, one of famous Chinese philosopher. This english translation I took from "The Te of Piglet". Here is the complete poem from Lao Tse.


I have three treasures,
Which I guard and keep.

        The first is compassion.
        The second is economy.
        The third is humility.

From compassion comes courage.
From economy comes
       the means to be generous.
  From humility comes
        responsibility leadership.

          Today, men have discarded compassion
In order to be bold.
               They have abandoned economy
               In order to be big spenders.
                      They have rejected humility
                       In order to be first.
                            This is the road to death.
-Lao Tse-


I am no expert in Chinese philosophy but I found it amazing and still relevant today.


With compassion comes courage, life is about choices after all. We choose between what we love and what we love more. Sometimes choices comes with sacrifice, and in order to take the one that you love more you need courage to choose and move on. No matter its compassion towards other individuals, things, or even your dream.

From economy comes generosity. Of course we can't help other if we have not enough for our self. Its also teach us to not become greedy person. Greedy person will never feel enough. They will looking for more fortune, money or something else. But if we already felt that we had enough, it will open our heart and lead to generosity. Generosity about anything, not  only about money. Maybe its food, clothes or even intangible things like knowledge. 


From humility comes responsibility leadership. With humility we will treat other like we treat our self, no dictatorship and we will have responsibility leadership. Sometime, some people want be the first and become more and more superior, even sacrificing others for that. With humility, hopefully we can avoid that.

Compassion teach us about courage and sacrifice for others.
Economy teach us to become thankful and generous.
Humility teach us to acknowledge people and treat others as we treat our self.

Rabu, 23 Mei 2012

Happy Sherlock Day

Sir Arthur Conan Doyle
Happy Sherlock Day!! Hundred and fifty three years ago, Sir Arthur Conan Doyle was born, in 22 May 1859. The great man who wrote Sherlock Holmes and his companion, Dr. Watson. Well its maybe a little bit too late in my calendar, but we still have a few more time in some other part of the world. And the good news is, Sherlock Holmes become Guinness World Records!!
Sherlock Holmes, Sir Arthur Conan Doyle’s fictional consulting detective, has been awarded a Guinness World Records title for the “Most Portrayed Literary Human Character in Film & TV.” as part of London & Partners’ World Record London. Claire Burgess, Guinness World Records adjudicator said: “Sherlock Holmes is a literary institution. This Guinness World Records title reflects his enduring appeal and demonstrates that his detective talents are as compelling today as they were 125 years ago.” source: http://www.film-news.co.uk
Sherlock Holmes in BBC Series
After his creation in 1887, Sherlock Holmes has been depicted on screen a massive 254 times. Its including his first appearance in 1890's, a 30 seconds silent movie. Even until now, we still have new remake of Sherlock Holmes in movie both in cinema and TV series.

Sherlock Holmes in Cinema
Sir Arthur Conan Doyle had wrote very good story with amazing plot and most unexpected way to kill someone that I ever read. Imagine that he was 28 years old when wrote the earlier Sherlock Holmes series. I believe he teach us through his novel about build our logic and the science of deduction. And maybe amazing childhood when we pretended to be Sherlock.

"I am the next Sherlock Holmes!!"
Happy Sherlock Day (^_^)

Rabu, 16 Mei 2012

Becak, Beda Negeri Beda Rejeki

Ada perasaan aneh menggelitik ketika menyaksikan liputan dari VOAIndonesia mengenai Tur Becak di New York (12.05.2012). Liputan tersebut menceritakan kehidupan penarik becak di New York dan bagaimana kegiatan mereka di salah satu kota tersibuk di Amerika. Begitu berbedanya nasib maupun perlakuan terhadap penarik becak antara di New York dan di Indonesia. Berikut liputan singkatnya.


 Menggelitik bukan? Penarik becak di New York tersebut memilih untuk menjadi penarik becak sedangkan di Indonesia sebagian menjadi penarik becak karena tidak ada pilihan. Simak saja penarik becak asal New York, Frankie Legarreta yang mengatakan, “Begitu saya memulai pekerjaan ini saya pikir ini adalah cara yang hebat untuk mencari nafkah. Dengan cara ini saya bisa bertemu dengan banyak orang dari berbagai latar belakang dari seluruh pelosok dunia.” Menarik bukan? Selain itu becak tidak hanya sebagai sarana transportasi, namun becak juga sebagai media penarik wisatawan mancanegara untuk berkeliling di "The Big Apple", New York. Frankie dalam wawancara tersebut menambahkan selama tubuhnya tetap sehat, dia akan baik-baik saja menjadi pengemudi becak merangkap sebagai pemandu wisata bagi para wisatawan yang menumpang becaknya selama beberapa dekade lagi

Becak Malam Hari di New York
Kisah Penarik Becak di New York

Lain di New York lain pula di Indonesia, New York sebagai salah satu kota besar dan sibuk, masih mengizinkan becak untuk tetap beroperasi di tengah kota. Di Indonesia sendiri jumlah becak semakin berkurang, bahkan di Jakarta, becak sudah mulai dilarang beroperasi sejak awal tahun 1990. Alasan utama pelarangan tersebut antara lain adalah becak disebut sebagai "eksploitasi manusia atas manusia". Selain itu becak dipandang lamban sehingga menyebabkan kemacetan dan tidak enak dipandang mata akibat armada becak yang terkesan kotor dan kumuh.
Penertiban Becak
Becak adalah satu satu warisan budaya sosial dalam masyarakat Indonesia. Sejarah becak di Indonesia sendiri sudah berlangsung sejak 1930 mulai dari Batavia lalu berkembang sampai Surabaya. Sudah sepatutnya budaya becak tetap dilestarikan dan jangan dibiarkan mati perlahan. Bahkan di New York terdapat  asosiasi pemilik becak yang didirikan oleh para penarik becak yang ada di kota tersebut. Asosiasi tersebut bahkan menerbitkan panduan bagi pemilik becak dalam bentuk e-book yang berisi aturan dan himbauan dalam berbecak ria di New York. Hal yang membangun seperti itulah yang patut ditiru, bukan sekedar kebijakan pembatasan yang pada akhirnya berujung pada kematian warisan budaya.

Razia Becak di Surabaya
Alasan utama mengapa becak dilarang adalah kemacetan. Beberapa pihak mengatakan bahwa becak cenderung lambat sehingga menimbulkan kemacetan. Tapi hal tersebut pernah coba dibuktikan dengan lomba adu cepat antara taksi dan becak di tengah kota New York. Siapakah pemenangnya? Simaklah video berikut ini.


Yap, becak lah pemenangnya. Selain lebih cepat, becak juga tidak membakar BBM dan tidak mengeluarkan emisi gas buang sehingga lebih ramah lingkungan. Lebih cepat, ramah lingkungan, melestarikan warisan budaya, menarik wisatawan, dan menyehatkan bagi penariknya. Becak, kenapa tidak? 



Canting Electric

Last Saturday, I went to my previous senior high school because I invited  by one of its extracurricular, Youth Science Club or Kelompok Ilmiah Remaja (KIR) in bahasa. They asked me to teach them about how to make canting electric. Canting is a traditional tool to make batik. We use canting to draw the pattern on the cloth before we soak the cloth in dye. We draw the pattern with hot wax so the one with hot wax pattern on it will not colored by the dye.

Canting and Wax
Stove to Make Hot Wax
In the traditional way, we need to boil the wax to become hot liquid wax and then we scoop it with canting before we can draw the pattern. This traditional way can be harmful to the batik artist because they will repeatedly inhale the gas from hot wax. That can cause the plaque in lungs. Moreover, the power source for the stove that used to make hot wax usually use kerosene. That will be expensive and not energy efficient. So, at the end of 2010 my friends and I participated in competition held by Directorate General of Intellectual Property, Ministry of Justice & Human Rights Indonesia with Canting Electric as a topic. We became finalist and the only team come from undergraduate student in Electronic Section. We competed against older people even some of them have PhD, and we lost :P

Scooping Hot Wax With Canting

Drawing The Pattern
I told the story to Youth Science Club in my senior high and they asked me to teach them. I taught them last Saturday with more simple version of canting electric based on Jogajakarta student's prototype. Its very simple, we used metal bottle of vitamin C, we disassembled solder as a heater, and chopstick for the canting handle. We put it together with iron wire.

Making Canting Electric Together
When I taught them, and explain how its works, they looks like full of curiosity. They asked many questions, something that we think simple and need to explain it in simple words. I realized, its feels amazing how we can inspire younger generation and make them more interested in science and engineering. I think I want to came by again and teach them something next time :))

Senin, 14 Mei 2012

Berkarya Melalui Cahaya

“We work in the dark - we do what we can - we give what we have. Our doubt is our passion, and our passion is our task. The rest is the madness of art.”  -Henry James-
Mungkin kata-kata dari Henry James tersebutlah yang paling cocok untuk menggambarkan kreativitas para seniman asal Negeri Kincir Angin, Belanda. Jujur saja, ketika saya mendengar kata cahaya yang pertama kali terpikirkan adalah matahari atau kadang bola lampu. Kata seni menempati urutan kesekian dalam pikiran saya. Namun bukan itu yang terjadi di Belanda, cahaya dengan semangat berkreasi yang ada dapat menjadi sebuah karya seni yang sangat menarik.

"Transformatie" oleh Michael Suk di halaman kampus TU/e (foto oleh Bart van Overbeeke)

 Adalah GLOW, event tahunan di kota Eindhoven, Belanda yang merupakan ajang berkumpul dan berkreasi berbagai pihak untuk menyalurkan hasrat seninya dengan media cahaya. Event GLOW tersebut merupakan acara tahunan yang dimulai sejak tahun 2007 dan mengusung konsep city tour. Pada event ini para seniman dan desainer tata cahaya beradu teknik dalam pencahayaan dan bahkan mengkombinasikannya dengan musik. Salah satunya adalah “Project: Volume”, yang memadukan musik dengan cahaya kolom lampu dalam video berikut:


 Menakjubkan melihat bagaimana para seniman dan desainer saling berlomba untuk berkreasi melalui cahaya di kegelapan untuk menciptakan "kegilaan seni". Satu gedung yang sama dengan aplikasi cahaya yang berbeda dapat membuat gedung yang sama terlihat sebagai gedung yang benar-benar berbeda. Kalau melihat bagaimana hal itu terjadi, rasanya tidak perlu lagi kita mengecat rumah dengan berbagai warna, ganti saja cahaya yang menyinari rumah kita bila sudah bosan dengan gambar tertentu.